Novel Kisah Kita Yang Terhenti (Part 2)

Novel Kisah Kita Yang Terhenti (Part 2)


Kisah kita yang

TERHENTI


Pagi harinya aku terbangun karena alarm dikamarku, jam sudah menunjukan pukul 6:00. Aku berjalan kekamar mandi, membersihkan diri, berpakaian lalu turun keruang makan untuk berkumpul bersama mamah dan papah yang sudah menunggu untuk sarapan.

“Tidurmu nyenyak sayang?” Tanya mamah padaku

“Mm..” aku menjawab dengan sumparan roti dalam mulutku.

“Mah, pah, elja buru-buru hari ini ada janji dengan klien” sembari berjalan mendekati mereka lalu mencium mereka

“Hati-hati sayang” papah mengingatkan.

Aku masuk ke mobil, lalu melunjur ke tujuan dimana klien sudah menunggu. Kemudian aku mebuka handpone untuk memeriksa sudah jam berapa sekarang. Ternyata ada sebuah notifikasi panggilan dan pesan dari nomor tak dikenal, aku belum membukanya. Setelah melihat jam, aku fokus menyetir

Sesampainya ditempat tujuan rupanya klienku belum datang,

“Syukurlah aku tiba lebih dulu”

Aku masuk kedalam dan mengambil tempat duduk, lalu membuka ponselku.  Aku terhenyak saat membuka pesannya. Satu hal yang tak pernah kusangka ini pesan dari Ren!! Hah.. dia menghubungiku

“Ha ha...” suara tawa dari mulutku, tapi aku tak sungguh-sungguh tertawa. Ini seperti rasa sakit yang berusaha ditutupi seperti orang sok tegar. Sejenak aku terkejut, namun juga tetap stabil dalam logikaku.

“tidak apa-apa, ini sudah lama berlalu, dia hanya menghubungiku sebagai teman lama, dan aku juga akan membalasnyasebagai teman lama.” Aku menenangkan diriku lalu diam sejenak berfikir apa yang harus kubalas...

Sejujurnya aku senang, setelah sekian lama aku merindukannya.. aku yang tak bisa melupakannya. Tiba-tiba dia menghhubungiku, tapi kedatangananya juga membawa rasa sakit. Hatiku perih tapi berusaha menyusun akal sehatku.

Setelah lama memandang pesan itu, dan setelah pengembaraan fikiranku yang kemana-mana, aku mulai mengetik pesan untuk membalasnya.

“oh hy.. Ren, kabarku baik. Bagaimana denganmu?” aku mengetik pesan berusaha membalasnya agar terlihat seperti teman biasa. Sebisa mungkin tidak mau terlihat menyedihkan seperti dulu. Meksi kenyataannya masih saja.

Setelah mengirim pesan itu aku berfokus pada kenyataan, bahwa sat ini aku sedang menunggu klien. Apa-apaan ini , orang itu terlambat. Kemudian terlihat dari jauh seorang wanita berlari tergesa-gesa, ya itu adalah klien yang kutunggu-tungggu.

“nona Elja, saya Irene... maafkan keterlambatan saya, saya tidak menyangka akan membuat nona menunggu” dia terlihat khawatir karena membuatku menunggu..

“seharusnya anda lebih disiplin pada waktu, sekarang mari kita fokus pada proyek yang akan dibahas.” Aku sedikit kesal, tapi itu bukan masalah. “jadi nona Irene, saya telah melihat proposal yang anda kirimkan, anda  berniat bekerja sama dengan perusahan kami untuk proyek ini, saya cukup terkesan dan ide anda cukup cemerlang”

Kemudian obrolan berlanjut dengan pembahasan bisnis.

***

Dia sisi lain, Ren yang baru sadar dari tidurnya belum menyadari bahwa ia menghubungi Elja tadi malam. Setelah menyiapkan diri dia pun berangkat ketempat kerjanya.sesampainya ditempat kerja Ren mengecek handpone dan melihat ada notif pesan baru dari Elja

Dug!! Dadanya terasa seperti tertekan sesuatu. Dia membukanya dan membaca pesan Elja, barulah dia tersadar ternyata tadi malam dia telah menghubunginya, dia bahkan menelponnya.

“apa-apaan, aku melakukan ini?”

Tapi Ren bersyukur melihat balasan Elja, dia membalasnya selayaknya teman yang lama tidak ada kabar. Ya mungkin ini adalah awal baru untuk menjalin pertemanan.

“Tak masalah, kami hanya teman” ren berkata pada dirinya sambil tersenyum hangat. Lalu mngetik pesan balasan

“Syukurlah Elja,....” ia terhenti mengetik lalu mengirim sebatas itu. Ingin saja Ren mengatakan bahwa dia merindukannya, tapi dia menahan dirinya untuk tidak melibatkan perasaan pribadinya lagi.

“kali ini aku ingin menjalin pertemanan dengannya tanpa melibatkan perasaan, ya aku adalah temannya yang akan mendukungnya dalam pilihan dan upayanya” Ren tersenyum setelah mengatakan kalimat itu pada dirinya sediri.

***

Tak terasa hari ini hampir berakhir, semua orang telah menyelesaikan jam kerjanya dan akan pulang, jam telah menunjukan pukul 16:30 (setengah lima sore). Saat tengah membereskan mejanya, telepon Ren berbunyi.

“kringg...!! kring...!!”

“ya Irene, ada apa?

Rupanya Irene adalah teman Ren,

“Renn!! Malam ini kau temani aku minum ya! Hahaha...” terdengar suara irene yang begitu bersemangat

“baiklah, sepertinya telah terjadi hal baik padamu hari ini” tersenyum mendengar Irene yang sepertinya tengah bahagia

Singkat cerita Ren dan Irene telah ada disebuah cafe, Irene bercerita tentang dia yang akan segera kerjasama pada sebuah prusahaan besar. Ya tidak lain iu adalah perusahaan Elja. Namun Ren sama sekali tidak Tahu.. dan Irene pun tidak mengetahhui masa-lalu Elja dan Ren

Irena adalah putri dari teman baik orang tua Ren, Irene wanita yang ceria dan bersemangat, sikapnya agak manja dan kekanakan, tapi di balik itu dia adalah sosok yang pantang menyerah dalam menghadapi hidupnya, sejak kuliah dulu Irene sangat mengagumi Ren. Namun Ren sejak dulu menganggap Irene sebagai adiknya yang harus dijaga. Dan itu berlangsung sampai saat ini.

“Ren, kau tau.. maneger wanita yang kutemui hari ini sangat cantik, aku iri denang kecantikannya, dia terlihat sangat elegan baik dalam bicaranya yang tegas maupun penampilannya, aahhh dia sosok sempurna,”

mata Irene bersinar saat membicarakan tentang Elja

“benarkan? Kau juga cantik, sesempurna apapun dia, dia juga manusia biasa yang memiliki kekuranagn, kau hanya belum mengetahui kekuranagnnya” Ren menyemangati Irene yang terlihat prustasi dengan penampilan dirinya sendiri.

“ahh kau mengatakan itu karena kau belum bertemu dengannya, jika kau melihatnya kau pasti akan jatuh hati. Oh tapi itu tidak boleh! Aku harus lebih dulu merebut hatimu hahaha....”

Mendenagr itu Ren pun tertawa, ia tak pernah mengagangap serius apa yang Irene katakan. Karena selama ini yang paling ia cintai masih adalah Elja.

Ren pun membuka handponenya mengecek apakah ada pesan balasan dari Elja, tapi rupanya pesannya belum dibaca. Dia menjadi gelisan sejak mengirim pesan pada Elja, menanti-manti apakah ada pesan selanjutnya dari Elja, seperti seorang anak kecil yang mengharapkan hadiah.

Singkatnya setelah Ren telah mengantar Irene pulang, kemudian dia pun telah berada dirumahnya...

***

“Elja kau masih belum pulang?” suara seorang lelaki yang familiar itu adalah “Herley” Pacar Elja saat ini. Rupanya Herley menghkawatirkan Elja yang sejak tadi pagi terlhat sangat sibuk. Bahkan masih lembur saat karyawan lain sudah pulang.

“oh herley, aku baru akan berkemas pulang”

“baguslah, kalau begitu ayo pulang bersamaku”

“ya..” Elja tersenyum sambil membereskan mejanya

“kau pasti belum makan, kita mampir dulu untuk makan malam ya..” ucap herley hangat

Herley memang seorang lelaki yang lembut dan baik, tidak salah papah menjadikan dia sebagai calon suamiku, selain karena latar belakang keluarga Herley yang sangat berpengaruh untuk memperkuat perusahaan papah. Tapi kebaikan Herley itu terasa berat untuk kuterima, hatiku yang masih menciintai Ren. Tapi ketulusan lelaki ini membuatku tak tega untuk menolak.

Sebenarnya sejauh ini aku menganggap Ren hanya sejauh sahabat terdekatku, teman yang selalu menghibur saat aku tengah rapuh, tak pernah tepikir bagiku untuk hidup sebagai suami istri denagn pria ini kelak.

Namun aku berfikir jika Herley adalah orang baik maka aku dapat menerimanya meski aku tak mencintainya, tapi justru itu mungkin akan menyakitinya jika bersma orang yang tak mencintainya.

“aku khawatir kau tak membaca pesanku, Elja” Herley membuka pembicaraan sambil menunggu pesanan mereka tiba dimeja.

“ah iya, aku terlalu sibuk hari ini. Banyak hal yang harus dibereskan karena deadline”

“meski begitu kau harus memikirkan kesehatanmu, Elja”

“tentu, terimakasih Herley. Baiklah mari kita makan”

Selesai makan herley mengantarku kerumah, Sesampainya dirumah aku masuk kamar, membersihkan diri dikamar mandi, lalu merebahkan diri diatas kasur.

“aahhhhh.... hari ini sungguh melelahkan!”

Aku menoleh kesebuah kotak musik diatas meja kecil samping ranjang, itu adalah hadiah dari Ren. Aku meraihnya lalu membukanya.

Sebuah melodi nostalgia yang menggambarkan perasaan cinta kasih sebuah pasangan bahagian, melodi nostal dia yang penuh keindahan tapi juga terdengar begitu pilu mengungat hubunganku yang kandas.

Aku membuka handponeku dan disana terlihat beberapa pesan dari Herley yang belum kubaca semenjak pagi tadi. Kemudian

“ting..!!” sebuah pesan baru muncul dari Heley

“selamat beristirahat Elja”

“terimakasih Herley, kau juga” balas elja

Kemudian aku melihat satu persatu pesan yang masuk, aku bangkit terduduk dari tempat tidur. Itu pesan dari Ren!!

“Sudah tidur?” tanya Ren

Dadaku kebang kempis menahan luapan perasaan dalam hati. Aku membuakanya dan terlihat ada pesan dari Ren membalas pesannya sebelumnya.

“syukurlah katanya? Ahaha.. kalau kukatakan aku tidak baik-baik saja bagaimana kamu akan menanggapinya Ren?”

Tapi kemudian aku mengetik pesan untuk membalas pesan Ren

“Belum, aku sedikit kesulitan tidur”

“sudah minum teh hangat? Itu akan membuatmu lebih baikkan”

Aku terhenyak, ren mengingat kebiasaannya. kebiasaanku yang harus minum teh hangat terlebih dulu sebelum tidur

“aku baru saja akan menyeduhnya, oh aku tak menyangka kau mengingtnya Ren” tulisku

Kemudian dia merasa malu, mengapa dengan percaya dirinya aku mengatakan itu. bisa saja bukan itu maksudnyakan.

“ya aku masih mengingatnya.”

Aku terdiam saat membacanya, apa-apaan ini mengapa dia mengiyakannya, apakarena tidak ingin aku malu karena kepercayaan diriku. Ha ha..

Ren andai kau tahu bagaimana aku menderita merindukanmu, hiks.. hiks... bahkan tangisan ini.. andai kau tau betapa aku ingin berteriak dihadapanmu, kau menyedihkan bagaimana bisa meninggalkan aku begitu saja, lalu datang seolah kita sebagai teman lama seperti ni??!!! Hikss.... aku yang terus berpura pura bahagia dalam dunia yang tak aku inginkan. Sementara kau pergi membawa seluruh hati yang kuberikan padamu..

Hahahaha.... baik karena kau sudah datang padaku, akan ku buat kamu merasakan bagaimana rasanya dicintai lalu ditinggal saat sayang-sayangnya.

Tawa dalam tangisan ini sungguh sebuah kebohongan. Aku tak bisa mengeti.

(Bersambung........)

Penulis : Erina Kristiani😉


1 Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak